Cerita Minahasa Utara



Sejarah Budaya dan Nilai Tradisional
----------------------------------------------------------------------------------------
ASAL USUL KABASARAN
Kabasaran adalah tarian perang dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung, hampir mirip dengan tarian Cakalele dari Maluku. Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi "Kabasaran" yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar. Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani dan rakyat biasa. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi Waraney.

Bentuk Gerakan
Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan. iap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.
Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.
Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan dan Bentenan. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang
digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).
Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa 1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri. 2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran. 3. Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa). 4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari. Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut “Pa’impulu’an ne Kabasaran”. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.
Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.
Masa Kini Seiring tidak ada lagi peperangan antar daerah, tari Kabasaran kini dijadikan sebagai tari penyambutan tamu dan hiburan warga Minahasa ketika menyelenggarakan pesta adat. Seringkali, tarian ini hadir sebagai hiburan warga ketika propinsi Sulawesi Utara menyelenggarakan festival adat.
----------------------------------------------------------------------------------------
SEJARAH TARI KATRILI
Tarian Tradisional Warisan Portugis
Minahasa – Tari katrili sudah sangat akrab dengan masyarakat suku Minahasa. Meski sudah berusia ratusan tahun, tarian tradisional ini masih tetap dilestarikan, walau tak banyak yang tahu. Tarian yang biasa digelar pada acara-acara penting ini adalah warisan bangsa Portugis dan Spanyol, yang dikenalkan saat mereka menjajah bangsa kita abad 16 silam. Para penari memulai tarian dengan lincah serta wajah-wajah ceria. Para penari terlihat begitu dinamis dan tetap semangat, seiring irama bernuansa musik country yang mengiringi tarian ini. Tarian tradisional suku Minahasa ini disebut tari katrili. Tarian yang menggambarkan tentang pergaulan remaja dan muda-mudi suku Minahasa ini, merupakan tarian yang diwarisi dari bangsa Portugis dan Spanyol, yang pada abad 16 silam sempat menjajah negeri kita. Lihat saja kostum yang dikenakan para penari ini. Gaun dan stelan jas penari wanita dan prianya terlihat jelas bercirikan budaya Eropa. Meski tarian ini merupakan warisan penjajah, tarian yang selalu dipertunjukan di setiap acara-acara seremonial pemerintah atau di pesta-pesta yang digelar warga ini, ternyata tetap dilestarikan dan dipelihara masyarakat suku Minahasa. Bahkan tarian ini telah menjadi salah satu tarian utama bagi suku Minahasa. Selain kerap dipertunjukan di acara pesta, tarian warisan Portugis dan Spanyol ini juga selalu dilombakan di sekolah-sekolah ataupun di berbagai festival kebudayaan. Karena usianya telah ratusan tahun, gerakan-gerakan tarian pun banyak dimodifikasi atau diubah sesuai keinginan para instrukturnya.
Sayangnya irama musik pengiring tarian ini kini lebih banyak menggunakan rekaman kaset ataupun rekaman cakram. Padahal beberapa tahun lalu musik pengiring tarian ini masih menggunakan alat musik kolintang, yang juga merupakan salah satu alat musik tradisional asli budaya suku Minahasa.
----------------------------------------------------------------------------------------

TARI MAENGKET
Tari Maengket dalah tari tradisional yang berasal dari Minahasa – Sulawesi Utara yang dari Zaman dulu kala sampai saat ini terus dikembang. Tari Maengket sudah ada ditanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal pertanian. Tari maengket dilakukan pada saat sedang panen hasil pertanian dengan gerakan-gerakan sederhana. Sekarang tarian Maengket telah berkembang teristimewa bentuk dan tarinya tanpa meninggalkan keasliannya. Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu : Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak. Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan, rakyat Minahasa Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampong diundang dalam pengucapan syukur. Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana pemuda-pemudi Minahasa pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa.
----------------------------------------------------------------------------------------
MASAMPER
Masamper merupakan budaya suku etnis Sangier. Tetapi kebudayan ini berkembang di Minahasa Utara, karena sejak dahulu orang Sangier telah berada dan menetap di tanah Minahasa.
Masamper adalah suatu kesenian tradisional yang sering ditampilkan saat pengucapan syukur dan kegiatan-kegiatan besar lainnya.
----------------------------------------------------------------------------------------
MUSIK BAMBU
Salah satu yang berasal dari MInahasa selain alat musik Kolintang adalah alat musik bambu. Alat musik bambu minahasa purba berbentuk tiga ruas bambu dengan panjang yang berbeda sekitar 8 cm yang di ikat menjadi satu. Alat musik ini terbuat dari Bulu Tui ( Bambu Kecil ) yang menghasilkan 3 jenis nada yang gunanya untuk memanggil burung Manguni di malam hari yang di sebut sori.
Kemudian berkembang menjadi Suling Bambu dengan jumlah not dari 3 sampai 5 not dengan satu lobang untuk meniup, tapi letak lobang tidak beraturan sehingga suling ini hanya di pergunakan oleh para petani yang menjaga ladang yang letaknya jauh dari kampung.
Musik Bambu mulai banyak dimainkan oleh masyarakat kristen protestan pertama yaitu sekitar tahun 1789 yaitu masyarakat Borgo yang ditempatkan di Manado, Tanawangko, Belang, Kema, Likupang dan Amurang. Dengan demikian Musik Bambu terbentuk pertama kali tahun 1840-an yang berbentuk Orkes Musik Suling, kemudian terpengaruh dengan dengan musik corps militer Belanda. Pada tahun 1870 meniup suling bambu menjadi salah satu mata pelajaran sol-mi-sa-si untuk belajar lagu-lagu Gereja. Sehingga setelah tahun 1900 sudah ada alat musik musik bambu yang berfungsi sebagai Bass dan Tuba (Piston) yang dikenal dengan nama Musik Bambu Melulu.
Pada tahun 1950-an selain suling kecil, suling sedang, korno, tuba, oferton (trombon), bass, tambur, Snar (gendrang), simbal, kapuraca kemudian ditambah lagi Klarinet dan Saxophon dari bambu buatan sendiri. Pada akhirnya Musik Bambu berkembang menjadi salah satu tradisional bergengsi yaitu dengan mengiringi lagu untuk menghormati Tamu Agung, Perkawinan, Upacara Adat dan Upacara lainnya.
Pada Tahun 1970-an bahan baku dari perlatan musik bambu seperti Klarinet, Saxophon, Tuba, Oferton, bass di ganti dari seng aluminium dengan bahan kuningan dan dikenal pada saat ini dengan nama Musik Bambu Seng Klarinet (MBSK), lalu kemudian pada tahun 1990 memakai bahan steinlees (Vernekel).
----------------------------------------------------------------------------------------
MUSIK KOLINTANG
Merupakan alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar yaitu kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Kata Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong Ting Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama "KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain. Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus kedepan. Dengan berjalannya waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-kadang diganti dengan tali seperti arumba dari Jawa Barat. Sedangkan penggunaan peti resonator mulai diterapkan pada saat Pangeran Diponegoro berada di Minahasa tahun 1830, di mana pada saat itu, konon peralatan gamelan dan gambang ikut dibawa oleh rombongannya. Adapun pemakaian kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan tradisional rakyat Minahasa, seperti dalam upacara-upacara ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Itulah sebabnya dengan masuknya agama kristen di Minahasa, eksistensi kolintang demikian terdesak bahkan hampir menghilang sama sekali selama ± 100th. Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh. Sebuah kolintang mempunyai 14-21 bilah kayu yang panjangnya sekitar 30-100 cm. Kayu yang lebih pendek menghasilkan tangga lagu (not) yang tinggi, sebaliknya kayu yang panjang menghasilkan not yang rendah. Kayunya adalah kayu lokal seperti, kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya disusun agar membentuk garis sejajar). Dalam perkembangannya saat ini, kayu yang bagus digunakan adalah kayu waru gunung dan kayu cempaka. Kolintang sendiri ada 4 tipe, yaitu: soprano, alto, tenor, dan bas. Permainan musik kolintang tidaklah individual. Dibutuhkan minimal 6 orang pemain musik, lebih lengkapnya dibutuhkan 9 orang. Satu set kolintang terdiri dari: melodi (kolintang 1), pengiring kecil (banjo kolintang), pengiring menengah (ukulele kolintang), pengiring besar 1 (gitar kolintang 1), pengiring besar 2 (gitar kolintang 2), bas kecil (sello kolintang), bas normal (bas kolintang), selain itu juga dilengkapi kotak dan pemukul serta tutup kolintang. Perkembangan kolintang tampil sebagai alat musik tradisional Indonesia di dunia cukup baik. Banyak kelompok musik yang memainkan kolintang di luar seperti Singapura, Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara lainnya. Pemesanan terhadap kolintang pun banyak berdatangan dari luar seperti Australia, Cina, Korea Selatan, Hong Kong, dan lain-lain. Permainan musik kolintang banyak ditampilkan untuk pagelaran-pagelaran seni, pesta pernikahan, upacara penyambutan, peresmian, pengucapan syukur, dan acara pertandingan. Harmoni dari berbagai nada terdengar indah dan memukau pendengarnya.
----------------------------------------------------------------------------------------
KAIN KHAS MINAHASA UTARA
Kain Khas Minahasa Utara, tercipta dari dorongan semangat terbentuknya Kabupaten MInahasa Utara, sebagai kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Utara. Adapun motif kain yang muncul yaitu motif Waruga dan motif Tumatenden. Waruga dikenal oleh dunia sebagai pusat adanya peninggalan purbakala Batu Waruga dengan corak dan relif yang memiliki nilai sejarah dimana Waruga telah ada sejak abad ke – 16, dan sampai saat ini masih ada di Minahasa Utara. Telaga Tumatenden yang merupakan historis legenda cerita rakyat Minahasa Utara dimana dahulukala Sembilan Putri yang turun mandi di pancuran sembilan, salah satu putri tertinggal dan kawin dengan seorang pemuda bernama Mamanua. Kecintaan akan budaya bangsa ini dikaryakan melalui motif kain khas MInahasa Utara.
----------------------------------------------------------------------------------------
CERITA RAKYAT TUMATENDEN
Mengintip pemandian sembilan bidadari meski Kamarau Panjang, Airnya tak Pernah Surut bukan hanya di tanah Jawa punya cerita tentang bidadari yang mandi di bumi, tetapi di wilayah Airmadidi pun punya cerita seperti itu. Sembilan mata air yang melambangkan sembilan bidadari yang datang mandi di Tumatenden, diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Konon mata air sembilan bidadari ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Berdasarkan cerita rakyat Kelurahan Airmadidi Bawah, konon lokasi ini merupakan lokasi tempat mandi sembilan bidadari yang turun dari kayangan. Kemudian seperti cerita rakyat tanah Jawa Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari, satu bidadari tak kembali ke kayangan sebab selendang terbangnya hilang dicuri oleh seorang pemuda desa, yang memergoki sembilan bidadari ini mandi dalam kolam mata air ini. Karena tak bisa kembali ke kayangan bersama saudari-saudarinya, maka sang bidadari yang katanya bernama Lumalungdung ini, akhirnya tinggal di desa tersebut dan diperistrikan oleh Mamanua, pemuda desa yang menyimpan selendangnya.
Dari hasil perkawinan mereka lahirlah anak yang diberi nama Walang Sendow. Selama menempuh bahtera rumah tangga, keluarga ini tidak mengalami kesulitan apapun, hingga suatu ketika selendang terbangnya ditemukan kembali oleh Lumalungdung. Meski dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya ia meningalkan suami dan anaknya dan kembali ke kayangan. Peristiwa hilangnya selendang satu bidadari ini ternyata merupakan akhir dari kebiasaan bidadari turun mandi ke Bumi. Mata air tempat mandi para bidadari ini, menurut warga sekitar, meski kemarau panajng, tetap akan mengeluarkan air.
Dan dari air inilah pun diyakini warga sekitar, mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Bila anda penasaran dan yakin dengan hal ini, silahkan mengunjungi dan mencoba mata air Tumatenden ini.
----------------------------------------------------------------------------------------
MAMANUA DAN WALANSENDOW
Beribu-ribu tahun sebelum bumi didiami banyak manusia, terdapat sebuah tempat pemandian air panas. Tempat pemandian itu hanya bagi putri kayangan. Pemilik pemandian itu bernama Mamanua, seorang yang kaya dan mempunyai banyak pesuruh. Tempat pemandian itu terletak disebuah desa bernama Tataaran. Nama mata air panas itu Rano ni Putiin, artinya air dari burung balam. Dahulu negeri tempat air panas ini masih dikelilingi hutan. Selain itu terdapat pula genangan air jernih, serta tepian teduh, menambah indahnya tempat ini. Pohon-pohon besar tahun demi tahun merangkai bunga-bunga yang berteduh dibawah naungannya. Rusa, babi hutan, tikus ekor putih, soa-soa dan burung maleo masih berkeliaran disana. Jamur pun tumbuh liar dipohon. Daerah ini masih berupa hutan perawan. Setiap selesai berburu, Mamanua selalu singgah ditempat pemandian itu. Setelah selesai mandi, para pesuruhnya disuruh membersihkan tempat itu. Pada suatu hari, salah seorang pesuruh melapor pada Mamanua bahwa tempat pemandian itu kotor. Mamanua marah mendengar berita itu. Ia ingin melihat, siapa yang berani melakukan hal itu. Niat ini dilaksanakannya tanpa bantuan para pesuruh. Mamanua menunggu ditempat tersembunyi dekat tempat pemandian itu. Tiba-tiba ia mendengar bunyi angin ribut dari arah timur. Bunyi angin itu semakin lama semakin mendekat. Seketika itu juga tampaklah sekelompok burung balam putih berjumlah Sembilan ekor ditempat pemandian. Anehnya, kesembilan ekor burung itu kemudian berubah menjadi Sembilan putri cantik memakai sayap putih. Mereka menanggalkan sayap putih itu dan mandi.
Kegelisahan Mamanua saat itu berganti gembira. Rasa cinta pada putri-putri itu berbunga. Mamanua langsung mencuri dan menyembunyikan salah satu sayap putih itu. Setelah itu dia berlari ke tempat pemandian dimana para putri sedang mandi. Sayang sebelum Mamanua tiba ditempat itu,para putri kayangan segera berlari mengambil sayap- sayap mereka dan terbang. Calaka, sayap putri bungsu hilang sehingga ia tidak dapat terbang. Apa daya, para putri lain tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak dapat menolongnya. Adik mereka yang bungsu, Lumalundung namanya menangis. Kemudian datang Mamanua yang membujuk Lumalundung untuk tinggal bersamanya. Mamanua pun memperistrikan Lumalundung. Mereka hidup bahagia suami – isteri dan memperoleh anak yang diberi nama Walansendow. Waktu berjalan bumi berputar. Rupanya awan besar dan rendah yang menyebabkan hujan, Guntur, dan kilat melanda kehidupan mereka. Suatu ketika, saat Lumalundung sedang menyusui Walansendow, Mamanua melihat banyak kutu di kepala istrinya. Tanpa disuruh, Mamanua langsung mencari kutu, bahkan mencabut tiga helai rambut Lumalundung. Sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi karena merupakan pantangan bagi Lumalundung. Bekas rambut yang tercabut itu langsung mengeluarkan darah tanpa henti. Mamanua bingung. Ia langsung berlari keluar rumah. Lumalundung segera mencari sayap yang disimpan Mamanua. Setelah sayap itu ditemukan, Lumaundung langsung memakainya dan terbang ke angkasa. Diluar rumah tampak awan putih rendah dan terpencar seperti gumpalan kapas. Awan itu membawa cuaca baik.
Apa yang tejadi dengan Walansemdow? Ia menangis tanpa henti. Mendengar tangisan Walansendow yang keras itu, Mamanuapun masuk ke kamar. Ternyata didalam kamar hanya ada Walansendow. Kepergian Lumalundung merupakan suatu kesedihan yang mendalam bagi Mamanua dan Walansendow. Segala jalan sudah dipikirkan Mamanua untuk bisa bertemu dengan Lumalundung. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Lumalundung kemanapun juga. Jika perlu ke langit yang ke tujuh. Mulailah Mamnua melangkahkan kaki mencari Lumalundung dengan menggendong Walansendow. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan pohon besar yang sangat tinggi, biasa disebut Walangitan (pohon hitam). Mamanua bertanya pada pohon itu, “apakah engkau dapat menolong kami? Kami sedang mengalami kesulitan, istri saya atau ibu anak ini lari meninggalkan rumah entah ke mana.” Pohong hitam berkata “apakah yang dapat kamu berikan kepada saya sebagai balasan kalau saya dapat membantumu?” Mamanua menjawab, “pohonmu banyak dibutuhkan orang dan batangmu akan menjadi kuat dan baik.” Pernyataan ini disetujui oleh pohon hitam. Kemudian, Mamanua dan Walansendow naik keatas pohon hingga ke puncaknya. Akan tetapi, mereka belum bisa tiba dilangit. Akhir nya, turunlah keduanya dengan susah payah.
Perjalanan dilanjutkan da bertemulah mereka dengan rotan yang panjang. Hal yang sama dikemukakan Mamanua kepada rotan. Rotan hanya dapat membantu jika ada balas jasa. Jasa yang dijanjikan Mamanua adalah batang rotan akan dimanfaatkan orang menjadi barang yang berguna. Hadiah ini diterima rotan. Mamanua dan Walansendow disuruh berada diujung rotan. Lalu, mereka diangkat tinggi-tinggi oleh rotan, tetapi tidak sampai juga dilangit. Walaupun kecewa,Mamanua belum putus asa. Setelah berjalan kira-kira seratus meter dari tempat rotan, mereka bertemu dengan babi hutan. Mamanua menyampaikan maksudnya kepada babi hutan. Ternyata, tuntutannya sama. Balas jasa utnuk babi hutan adalah ia mendapatkan apa yang akan dimakan manusia. Setelah itu, babi hutan menyuruh Mamanua dan Walansendow naik ke atas punggungnya. Kemudian, dia berlari mendaki pegunungan dan menuruni lembah. Akhirnya, mereka tiba ditepi pantai dan beristirahat disitu. Sepanjang hari Mamanua selalu berpikir dan merenungkan hidupnya bersama Walasendow. Tiba-tiba seekor ikan besar muncul didepannya. Permintaan tolongpun disampaikan kepada ikan. Rupanya ikan pun mengharapkan balas jasa. Mamanua berkata kepada ikan, “apabila engkau berenang jangan lupa siripmu diangkat, engkau akan dapat terbang. Namamu akan disebut ikan layar.”Ikan sangat setuju. Mereka berdua boleh naik keatas pungungnya. Ternyata mereka belum juga beruntung. Tujuan yang ingin dicapai belum tiba walaupun mereka sudah berada ditempat terbitnya matahari.
Mereka berada disuatu daratan luas dan bertemu dengan seorang lelaki tua. Ditangan lelaki itu ada cemeti. Lelaki itu berjalan menuju mereka. Begitu bertemu, Walansendow dicambuk lelaki itu dengan cemeti. Anehnya Walansendow tidak merasa sakit dan tidak ada tanda cemeti ditubuhnya. Ternyata, lelaki itu ayah Lumalundung yang bernama Malaroya. Ia hanya bermaksud mengetahui apakah Walansendow mempunyai darah dewa. Malaroya segerah memangil seorang perempuan untuk menggendong Walansendow. Tanpa setahu Mamanua, mereka sudah berada didaerah bernama Pinontol, yaitu suatu tempat yang berada diantara langit dan bumi. Perempuan yang menggendong Walansendow bertanya kepada Mamanua, bagaimana ia bisa tiba ditempat ini. Mamanua menuturkan semua yang terjadi terhadap dirinya dan anaknya. Dengan penuh kasih, perempuan tu membawa Mamanua dan Walansendow ke tempat Sembilan putri berada. Mamanua disuruh memilih Lumalundung diantara kesembilan putri. Akan tetapi, ia bingung ketika berhadapan dengan para putri itu karena wajah mereka mirip satu sama lain. Ketika Mamanua sedang berpikir, muncullah seekor lalat besar. Mamanua tidak mau kesempatan ini lewat begitu saja. Ia langsung menyampaikan maksudnya kepada lalat mengingat Walansendow sudah lama tidak disusuinya. Setelah isi hatinya disampaikan, lalat besarpun meminta balas jasa. Mamanua berkata bahwa setiap makanan yang telah selesai dimasak, dialah yang akan mencicipi lebih dahulu.
Hadiah ini diterima lalat dengan gembira. Lalu, dengan senang hati dia memberitahu bahwa putri yang dia hinggapi adalah Lumalundung. Hal ini dilakukan Mamanua. Akhirnya, Walansendow disambut Lumalundung. Lumalundung segera menyusui Walansendow sambil bercerita dengan mamanua. Peristiwa ini membawa keributan dikayangan karena tercium bau manusia. Malaroyapun datang untuk memberi hukuman pada Mamanua. Akan tetapi, hukuman ini dapat dibatalkan juga syarat yang diajukan Malaroya terpenuhi. Syaratnya, sebatang buluh berlubang harus diisi air hinggah penuh. Jika Mamanua dapat mengerjakannya ia tidak akan menerima hukuman mati. Mamanua segera menuju sungai dan bertemu denngan sogili (belut). Ia meminta bantuan sogili. Sogili bersedia memberikan kendinya kedalam buluh itu. Setelah pekerjaan itu selesai dikerjakan sogili, kembalilah Mamanua menemui Malaroya. “buluh sudah terisi air,” kata Mamanua kepada Malaroya. Hukuman matipun tidak jadi dilaksanakan. Mamanua diperkenankan hidup dikayangan bersama istri dan anaknya.
Kesimpulan Cerita ini tidak pernah terjadi, hanya fantasi dan khayalan belaka. Akan tetapi, cerita ini banyak diketahui orang, terutama para orang tua. Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita ini bahwa kita harus saling menolong satu sama lain. Demikian pula apabila kita bercita-cita tinggi, kita harus berusaha sekuat tenaga.
----------------------------------------------------------------------------------------
KEKE PANDAGIAN
Suatu kisah tentang seorang gadis yang dikenal “Pandagian”. Suatu malam selagi mengadakan upacara (ritus) sampai larut malam, maka suara Pandagian terdengar orang tuanya yang membenci nyanyian itu diluar rumah itu. Maka mereka mengangkat tangga rumah mereka sehingga pada waktu Pandagian pulang, tidak dapat naik rumah lagi. Pandagian bermohon minta ampun, tapi orang tuanya tidak mengampuninya. Ia disuruh pergi kepada saudaranya, tapi juga tidak diterima. Disuruh lagi pergi kepada pamannya, juga ditolak. Lalu Pandagian kembali melanjutkan upacara ritual dengan nyanyi-nyanyian sampai pagi. Hal itu didengar oleh para Opo dan menurunkan tali rotan dari langit ke bumi sebagai hadiah kesuciannya. Pandagian naik ke langit dengan rotan sambil ditatap orang tuanya yang memanggil-manggil Pandagian turun, tetapi Pandagian tidak turun-turun lagi. Dilangit para Opo menyambut dia dengan gembira.
----------------------------------------------------------------------------------------
TUMIIDENG
Dahulu kala, penduduk bumi belum punya tanaman padi seperti di kayangan. Hal ini dilihat oleh penghuni bumi apabila bertandang ke kayangan. Tapi penduduk kayangan selalu waspada menerima penghuni bumi. Mereka dapat merasakan kalau pendatang dari bumi berniat mencuri padi untuk dibawa ke bumi.
Berbagai cara penghuni bumi berusaha mendapatkan padi untuk dibawa ke bumi untuk ditanam. Sampai suatu waktu seorang penduduk bumi mendapat akal dengan mengiris belulang tumitnya, lalu pergi ke kayangan. Pada suatu kesempatan yang baik, ia berjalan diatas padi yang sedang dijemur. Dengan sendirinya masuklah beberapa butir padi kedalam belulang tumitnya yang sudah diiris tanpa diketahui lagi oleh si pemilik padi di kayangan. Lalu lekas-lekaslah penghuni bumi turun dari kayangan membawa padi tersebut.
Cerita Rakyat
----------------------------------------------------------------------------------------
WAREREH
Pada suatu masa penghuni bumi dan langit hidup aman dan damai. Para Opo penghuni langit sering bertandang ke bumi, sebaliknya manusia dibumi juga sering mengunjungi langit. Kehidupan dilangit ternyata lebih makmur dan bahagia. Kebahagiaan hidup para Opo dilangit menimbulkan iri hati terhadap seorang manusia penghuni bumi, Warereh namanya.
Kunjungannya ke langit mencurigakan Opo langit, sehingga berencana menangkapnya. Rencana itu diketahui oleh Warereh, lalu timbul dari pikirannya dengan menggunakan sebuah pedang yang besar dan panjang serta tajam dapat berbuat sesuatu.
Dengan parang itu Warereh menuju ke Gunung lokon. Diparangnya gunung itu sehingga menjadi dua. Potongan sebelahnya dibawa ke daerah Tonsea, maka terjadilah Gunung “Klabat”.
Belum puas juga dia, lalu belahan Gunung Lokon bagian yang sisa dipangkasnya dengan parang yang sama, lalu potongan bagian atas diangkat dan dibuangnya ke laut yang menimbulkan Pulau Manado Tua. Dengan demikian, Gunung Lokon yang mulanya sebagai prasarana tangga menghubungi langit dan bumi, kini sudah tidak ada.
----------------------------------------------------------------------------------------
PINGKAN MATINDAS
Pada suatu tempat di Desa Mandolang dekat Tanawangko, berdiam satu rumah tangga muda. “Pingkan” nama si istri dan “Matindas” nama si suami. Pingkan termasuk wanita tercantik di Desa Mandolang oleh sebab itu Matindas sulit sekali meninggalkannya lama-lama manakala ia melaut. Terbetiklah dari dalam hatinya untuk membuat patung si Pingkan supaya dapat dibawa-bawa dan dilihat sewaktu manakala Matindas melaut terpisah dari Pingkan istrinya untuk beberapa hari. Patung dibuat, pingkan heran bahwa begitu cantik dan menarik dirinya, tidak seperti yang kerap kali diamatinya diair. Patung tersebut selalu dibawa Matindas apabila melaut dengan kawan-kawannya dan dilihatnya manakala kesepian. Pada suatu hari, malang bagi Matindas dan kawan-kawannya ketika mereka berada jauh dilaut lepas, perahu mereka diterpa ombak dan tenggelam.
Matindas dan kawan-kawannya hanya mampu meluputkan diri dengan berenang ke darat. Patung si Pingkan yang terbuat dari kayu ringan dibawa ombak ke darat dan ditemukan nelayan dari luar. Karena heran melihat kecantikan patung itu, mereka menyerahkannya kepada Raja mereka. Raja tertarik akan kecantikan patung pingkan dan mencari orangnya untuk dipersunting sebagai istri Raja. Berita itu sampai ke telinga Pingkan dan matindas. Mereka menyingkir sembunyi-sembunyi menuju “Kema”.
Raja dari kerajaan itu bersama pasukannya yang didahului oleh mata-mata berlayar menyusuri pantai sampai Kema, pada suatu arena Olah raga tradisional. Pingkan bersembunyi dibalik atap sebuah rumah, tetapi sempat diketahui Raja, lalu Raja berniat menemuinya. Sementara itu dengan cerdiknya Pingkan mengatur siasat dengan menyuruh Matindas bersembunyi. Datanglah Raja bertamu kepada Pingkan yang disambut dengan ramah. Raja langsung meminang, dan untuk keamanannya, berlagak Pingkan menerima dengan satu syarat adat, yakni: “Makan sirih pinang”. Tapi Pingkan mengatakan bahwa pinang sudah habis dan supaya Raja memanjat sendiri pinang dihalaman rumah Pingkan. Usul dan syarat lainnya, Raja menanggalkan kebesarannya dan menyamar dengan pakaian rakyat jelata, diterima oleh Raja.
Dipinjamkanlah pakaian Matindas, lalu Raja memanjat pohon pinang. Sementara itu, Matindas keluar dari persembunyiannya lalu memakai pakaian Raja serta langsung muncul dan berseruh memerintah pasukan kerajaan asing untuk menangkap orang yang sedang memanjat pohon pinang tersebut. Orang itu dikepung dan dibunuh. Setelah itu, terjadi perang dengan kerajaan dari luar. Untuk itu, bersatulah orang-orang Minahasa guna mengusir pasukan kerajaan asing.
Dari situlah terjadinya persatuan Malesung…
----------------------------------------------------------------------------------------
PERNIKAHAN ADAT DI MINAHASA
Proses Pernikahan adat yang selama ini dilakukan di tanah Minahasa telah mengalami penyesuaian seiring dengan perkembangan jaman. Misalnya ketika proses perawatan calon pengantin serta acara “Posanan” (Pingitan) tidak lagi dilakukan sebulan sebelum perkawinan, tapi sehari sebelum perkawinan pada saat “Malam Gagaren” atau malam muda-mudi. Acara mandi di pancuran air saat ini jelas tidak dapat dilaksanakan lagi, karena tidak ada lagi pancuran air di kota-kota besar. Yang dapat dilakukan saat ini adalah mandi adat “Lumelek” (menginjak batu) dan “Bacoho” karena dilakukan di kamar mandi di rumah calon pengantin. Dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan sekarang ini, semua acara / upacara perkawinan dipadatkan dan dilaksanakan dalam satu hari saja. Pagi hari memandikan pengantin, merias wajah, memakai busana pengantin, memakai mahkota dan topi pengantin untuk upacara “maso minta” (toki pintu). Siang hari kedua pengantin pergi ke catatan sipil atau Departemen Agama dan melaksanakan pengesahan/pemberkatan nikah (di Gereja), yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Pada acara in biasanya dilakukan upacara perkawinan ada, diikuti dengan acara melempar bunga tangan dan acara bebas tari-tarian dengan iringan musik tradisional, seperti tarian Maengket, Katrili, Polineis, diriringi Musik Bambu dan Musik Kolintang.
Bacoho (Mandi Adat) Setelah mandi biasa membersihkan seluruh badan dengan sabun mandi lalu mencuci rambut dengan bahan pencuci rambut yang banyak dijual di toko, seperti shampoo dan hair tonic. Mencuci rambut “bacoho” dapat delakukan dengan dua cara, yakni cara tradisional ataupun hanya sekedar simbolisasi. Tradisi : Bahan-bahan ramuan yang digunakan adalah parutan kulit lemong nipis atau lemong bacoho (citrus limonellus), fungsinya sebagai pewangi; air lemong popontolen (citrus lemetta), fungsinya sebagai pembersih lemak kulit kepala; daun pondang (pandan) yagn ditumbuk halus, fungsinya sebagai pewangi, bunga manduru (melati hutan) atau bunga rosi (mawar) atau bunga melati yang dihancurkan dengan tangan, dan berfungsi sebagai pewangi; minyak buah kemiri untuk melemaskan rambut dicampur sedikit perasan air buah kelapa yang diparut halus. Seluruh bahan ramuan harus berjumlah sembilan jenis tanaman, untuk membasuh rambut. Sesudah itu dicuci lagi dengan air bersih lalu rambut dikeringkan.
Simbolisasi : Semua bahan-bahan ramuan tersebut dimasukkan ke dalam sehelai kain berbentuk kantong, lalu dicelup ke dalam air hangat, lalu kantong tersebut diremas dan airnya ditampung dengan tangan, kemudian digosokkan kerambut calon pengantin sekadar simbolisasi. Lumele’ (Mandi Adat): Pengantin disiram dengan air yang telah diberi bunga-bungaan warna putih, berjumlah sembilan jenis bunga yang berbau wangi, dengan mamakai gayung sebanyak sembilan kali di siram dari batas leher ke bawah. Secara simbolis dapat dilakukan sekedar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri, kemudian mengeringkannya dengan handuk yang bersih dan belum pernah digunakan sebelumnya.
----------------------------------------------------------------------------------------
UPACARA PERKAWINAN
Upacara perkawinan adat Minahasa dapat dilakukan di salah satu rumah pengantin pria ataupun wanita. Di Langowan-Tontemboan, upacara dilakukan dirumah pihak pengantin pria, sedangkan di Tomohon-Tombulu di rumah pihak pengantin wanita. Hal ini mempengaruhi prosesi perjalanan pengantin. Misalnya pengantin pria ke rumah pengantin wanita lalu ke Gereja dan kemudian ke tempat acara resepsi. Karena resepsi/pesta perkawinan dapat ditanggung baik oleh pihak keluarga pria maupun keluarga wanita, maka pihak yang menanggung biasanya yang akan memegang komando pelaksanaan pesta perkawinan. Ada perkawinan yang dilaksanakan secara Mapalus dimana kedua pengantin dibantu oleh mapalus warga desa, seperti di desa Tombuluan. Orang Minahasa penganut agama Kristen tertentu yang mempunyai kecenderungan mengganti acara pesta malam hari dengan acara kebaktian dan makan malam. Orang Minahasa di kota-kota besar seperti kota Manado, mempunyai kebiasaan yang sama dengan orang Minahasa di luar Minahasa yang disebut Kawanua. Pola hidup masyarakat di kota-kota besar ikut membentuk pelaksanaan upacara adat perkawinan Minahasa, menyatukan seluruh proses upacara adat perkawinan yang dilaksanakan hanya dalam satu hari (Toki Pintu, Buka/Putus Suara, Antar harta, Prosesi Upacara Adat di Pelaminan).
Contoh proses upacara adat perkawinan yang dilaksanakan dalam satu hari: Pukul 09.00 pagi, upacara Toki Pintu. Pengantin pria kerumah pengantin wanita sambil membawa antaran (mas kawin), berupa makanan masak, buah-buahan dan beberapa helai kain sebagai simbolisasi. Wali pihak pria memimpin rombongan pengantin pria, mengetuk pintu tiga kali.
Pertama : Tiga ketuk dan pintu akan dibuka dari dalam oleh wali pihak wanita. Lalu dilakukan dialog dalam bahasa daerah Minahasa. Kemudian pengantin pria mengetok pintu kamar wanita. Setelah pengantin wanita keluar dari kamarnya, diadakan jamuan makanan kecil dan bersiap untuk pergi ke Gereja. Pukul 11.00-14.00 : Melaksanakan perkawinan di Gereja yang sekaligus dinikahkan oleh negara, (apabila petugas catatan sipil dapat datang ke kantor Gereja). Untuk itu, para saksi kedua pihak lengkap dengan tanda pengenal penduduk (KTP), ikut hadir di Gereja. Pukul 19.00 : Acara resepsi kini jarang dilakukan di rumah kedua pengantin, namun menggunakan gedung / hotel. Apabila pihak keluarga pengantin ingin melaksanakan prosesi upacara adat perkawinan, ada sanggar-sanggar kesenian Minahasa yang dapat melaksanakannya. Dan prosesi upacara adat dapat dilaksanakan dalam berbagai sub-etnis Minahasa, hal ini tergantung dari keinginan atau asal keluarga pengantin. Misalnya dalam versi Tonsea, Tombulu, Tontemboan ataupun sub-etnis Minahasa lainnya. Prosesi upacara adat berlangsung tidak lebih dari sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan kata sambutan, melempar bunga tangan, potong kue pengantin , acara salaman, makan malam dan sebagai acara terakhir (penutup) ialah dansa bebas yang dimulai dengan Polineis.
----------------------------------------------------------------------------------------
Prosesi Upacara Perkawinan di Pelaminan.
Penelitian prosesi upacara perkawinan adat dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Minahasa Jakarta pimpinan Ny. M. Tengker-Rombot di tahun 1986 di Minahasa. Wilayah yang diteliti adalah Tonsea, Tombulu, Tondano dan Tontemboan oleh Alfred Sundah, Jessy Wenas, Bert Supit, dan Dof Runturambi. Ternyata keempat wilayah sub-etnis tersebut mengenal upacara Pinang, upacara Tawa’ang dan minum dari mangkuk bambu (kower). Sedangkan upacara membelah kayu bakar hanya dikenal oleh sub-etnis Tombulu dan Tontemboan. Tondano mengenal upacara membelah setengah tiang jengkal kayu Lawang dan Tonsea-Maumbi mengenal upacara membelah Kelapa. Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, maka upacara adat dimulai dengan memanjatkan doa oleh Walian disebut Sumempung (Tombulu) atau Sumambo (Tontemboan). Kemudian dilakukan upacara “Pinang Tatenge’en”. Kemudian dilakukan upacara Tawa’ang dimana kedua mempelai memegang setangkai pohon Tawa’ang megucapkan ikrar dan janji. Acara berikutnya adalah membelah kayu bakar, simbol sandang pangan. Tontemboan membelah tiga potong kayu bakar, Tombulu membelah dua. Selanjutnya kedua pengantin makan sedikit nasi dan ikan, kemudian minum dan tempat minum terbuat dari ruas bambu muda yang masih hijau. Sesudah itu, meja upacara adat yang tersedia didepan pengantin diangkat dari pentas pelaminan. Seluruh rombongan adat mohon diri meniggalkan pentas upacara. Nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat dinamakan Tambahan (Tonsea), Zumant (Tombulu) yakni lagu dalam bahasa daerah.
Bahasa upacara adat perkawinan yang digunakan, berbentuk sastra bahasa sub-etnis Tombulu, Tontemboan yang termasuk bahasa halus yang penuh perumpamaan nasehat. Prosesi perkawinan adat versi Tombulu menggunakan penari Kabasaran sebagai anak buah Walian (pemimpin Upacara adat perkawinan). Hal ini disebabkan karena penari Kabasaran di wilayah sub-etinis lainnya di Minahasa, belum berkembang seperti halnya di wilayah Tombulu. Pemimpin prosesi upacara adat perkawinan bebas melakukan improvisasi bahasa upacara adat. Tapi simbolisasi benda upacara, seperti : Sirih-pinang, Pohon Tawa’ang dan tempat minum dari ruas bambu tetap sama maknanya.
----------------------------------------------------------------------------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar